5 Kesalahan Umum Jemaah Wanita Saat Umrah

Diposting pada

Umroh Plus Turki Desember – Masih saja ada di antara jemaah yang kadangkala tak paham sepenuhnya keputusan pelaksanaan ibadah umrah sampai kelanjutannya tak paham jikalau mereka sudah berbuat kesalahan.

Dream – Menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk laksanakan ibadah umrah pasti jadi idaman setiap muslim. Ibadah ini jadi pilihan alternatif bagi mereka yang belum berkesempatan laksanakan ibadah haji.

Apalagi dengan antrean calon pendaftar haji di Indonesia yang pakai sistem kuota yang sudah menyentuh kala belasan tahun.

Ada banyak aturan yang perlu ditaati oleh para jemaah umrah sepanjang laksanakan perjalanan umrah, merasa dari berangkat, dalam penerbangan sampai merintis serangkaian aktivitas ibadah di Mekah dan Madinah.

Sayangnya, masih saja ada di antara jemaah yang kadangkala tak paham sepenuhnya keputusan pelaksanaan ibadah umrah sampai kelanjutannya tak paham jikalau mereka sudah berbuat kesalahan. Seperti sebagian kesalahan umum selanjutnya yang sering tak disadari oleh para jemaah wanita.

1. Berpikir bahwa ihram mereka adalah ‘topi’ yang dikenakan di atas kepala

Beberapa muslimah tidak paham apa artinya Ihram dan mereka pikir itu adalah ” topi” yang mereka pakai di kepala. Mereka tidak berani melepasnya untuk alasan apa pun karena mereka berpikir akan ” membatalkan Ihram mereka” .

Kata Ihram diambil alih dari bahasa Arab, dari kata ” Al-Haram” yang artinya terlarang atau tercegah. Dinamakan Ihram karena seseorang yang masuk kepada ‘kehormatan’ ibadah haji dengan niatnya, dia dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu, seperti jimak, menikah, berucap ucapan kotor, dan lain-sebagainya.

Dari sini bisa diambil alih satu definisi syari bahwa Ihram adalah tidak benar satu tekad dari dua ibadah (yaitu haji dan umrah) atau kedua-duanya secara bersamaan. Ketika Anda memasuki kondisi Ihram tidak artinya bahwa Anda tidak bisa melepasnya nanti. Dan kala melepas kainnya tidak artinya bahwa Ihram Anda berakhir. Itulah mengapa ulama mengatakan bahwa kami bisa mengganti Ihram (yang artinya ‘pakaian kami’), dan lebih-lebih membersihkan jikalau mendapati kotor.

2. Khawatir rambut rontok

Beberapa wanita memiliki kegalauan jikalau rambut mereka rontok sepanjang Ihram. Begitu khawatirnya agar mereka tidak melepas jilbab mereka dan tidak berkenan melepas ” topi” mereka kala berwudhu.

Ini adalah godaan dari setan. Pikirkan perihal hal ini. Jika Anda tidak melakukan wudhu dengan benar, akankah doa Anda jadi sah? Apakah Thawaf Anda sah? Apakah Anda berpikir bahwa Allah akan menghukum manusia akibat dari suatu hal kelakuan yang d iluar kendalinya? Tidak, pasti saja tidak.

Dia adalah Yang Maha Penyayang. Dia adalah Maha Pengampun. Lalu, mengapa Ia akan membatalkan Ihram Anda cuma karena sebagian rambut yang rontok (yang tidak disengaja)? Larangan perihal rambut cuma berlaku untuk rambut yang sengaja dipotong, dicabut, atau dicukur dengan sengaja.

3. Melakukan Tahalul cuma untuk seseorang yang sudah selesai Ihram

Banyak wanita berpikir bahwa cuma orang yang selesai Ihramlah yang bisa memotong rambut mereka. Dan mereka menampik untuk memotong rambut mereka sendiri untuk Tahalul. Ini adalah pendapat yang salah. Sebenarnya, Anda diinginkan untuk memotong rambut Anda sendiri ketika Tahalul.

Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya, sepanjang Haji Wada: ” Biarkan dia memotong (artinya, sendiri rambutnya sesudah itu nampak Ihram.” (Al-Bukhari, Muslim)

4. Tidak pergi ke Jamarat atau Muzdalifah

Beberapa dari jemaah haji mendelegasikan kepada jemaah haji lain untuk laksanakan lempar Jumroh atas nama jemaah lain tanpa alasan yang sah. Dengan alasan was-was keramaian atau was-was berdesak-desakan, mereka tidak paham pentingnya laksanakan lempar Jumroh oleh diri sendiri.

Allah sudah memberkati kami dengan kesehatan. Kebanyakan jemaah masih muda, energik, percaya diri, dan bisa laksanakan apa saja ketika berada di rumah, namun ketika datang ke Jamarat, seluruh tiba-tiba jadi ” lemah” , padahal cuma untuk melempar kerikil saja.

5. Berkerumun dengan laki-laki

Waspadalah kala berkerumun dengan laki-laki terhadap seluruh tahapan ibadah umrah, seperti kala Thawaf, mencium Hajar Aswad, sepanjang Sa’i atau ketika melempar Jumroh. Pilih kala yang aman dan luang.

Menyentuh Hajar Aswad adalah sunnah yang indah, namun itu adalah sekadar sunnah. Sementara menjaga diri dari kontak yang tidak perlu dengan seluruh yang bukan mahram laki-laki adalah fardhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *